Lini produksi sel surya terlihat sebagai deretan mesin yang bersih dan tertata. Di balik itu, ada sistem utilitas yang bekerja tanpa henti, yaitu air pendingin, air ultramurni, dan pengolahan air limbah. Jika salah satunya terganggu, lini produksi ikut berhenti, dan temperatur sering menjadi petunjuk pertama bahwa ada yang tidak normal.
Banyak peralatan di pabrik fotovoltaik membutuhkan air pendingin, mulai dari tungku difusi, mesin deposisi lapisan antirefleksi, laminator, sampai bak etching yang reaksinya menghasilkan panas. Air ini biasanya disuplai dari chiller dengan temperatur yang dijaga ketat. Sensor di sisi suplai dan sisi balik memperlihatkan berapa besar beban panas yang sedang ditangani. Bila temperatur balik terus naik padahal produksi normal, kemungkinan ada masalah pada chiller, pompa, atau aliran ke salah satu mesin.
Air ultramurni dipakai untuk membilas wafer di antara tahapan proses kimia. Kualitasnya biasanya dinilai dari resistivitas, dengan acuan 18,2 MΩ·cm pada 25 °C. Nilai resistivitas sangat dipengaruhi temperatur, sehingga pembacaan temperatur yang akurat dibutuhkan untuk kompensasi agar kualitas air tidak salah dinilai. Temperatur air umpan juga berpengaruh pada membran reverse osmosis, karena air yang terlalu panas dapat mempercepat kerusakan membran, sedangkan air yang terlalu dingin menurunkan kapasitas produksinya.
Air limbah pabrik sel surya mengandung sisa asam, basa, dan fluorida dari proses basah. Saat limbah asam dan basa dinetralkan, reaksinya menghasilkan panas. Monitoring temperatur di bak netralisasi membantu operator mengatur laju penakaran bahan kimia agar reaksi tetap terkendali. Jika instalasi pengolahan memakai proses biologis, temperatur juga perlu dijaga karena mikroorganisme hanya bekerja optimal pada rentang tertentu.
Sebagian besar titik ukur utilitas ini bekerja pada temperatur rendah sampai menengah, sehingga RTD Pt100 menjadi pilihan yang umum karena presisi dan stabil. Material sensor tetap perlu disesuaikan, misalnya stainless steel 316 untuk air pendingin dan bahan yang tidak melepaskan ion untuk jalur air ultramurni. Pada bak limbah yang mengandung fluorida atau asam, material pelindung yang tahan kimia tetap diperlukan.
Karena sistem utilitas biasanya berada di gedung terpisah dari lini produksi, jarak ke ruang kontrol bisa cukup jauh. Temperature transmitter dengan output 4–20 mA membuat data dari setiap titik tetap terbaca dengan baik di PLC atau SCADA. Dengan begitu, alarm dapat langsung muncul di ruang kontrol ketika temperatur keluar dari batas yang ditetapkan.
Sistem utilitas jarang mendapat perhatian sebesar lini produksi, padahal gangguan kecil di sana bisa menghentikan seluruh pabrik. Memasang sensor di titik yang tepat sejak awal jauh lebih murah dibanding mencari penyebab gangguan setelah produksi berhenti.
CV. Rach Tekindo Makmur menyediakan Temperature Sensor & Temperature Transmitter untuk berbagai kebutuhan instrumentasi industri. Jika Anda membutuhkan sensor, transmitter, maupun konsultasi konfigurasi dan pemasangan untuk sistem temperatur, hubungi WhatsApp 0877-8620-5656 untuk mendiskusikan kebutuhan teknis dan meminta penawaran sesuai aplikasi yang diperlukan.